SOAL UTS TA Bams FEB UGM 2016
Definisi aset
- Jelaskan bagaimana definisi “assets” dalam SFAC No.6 telah dengan sangat hati-hati disusun untuk memfasilitasi penerapan metode pengukuran akuntansi nilai wajar atau fair value
Dalam SFAC No.6 dijelaskan bahwa asset adalah manfaat ekonomi di masa depan yang diperoleh dan diken dalikan oleh entitas sebagai suatu hasil dari kejadian atau transaksi masa lalu. Di sini tambahkan kata “kejadian”. Kejadian ini merupakan suatu hal yang tidak melibatkan transaksi perusahaan. Kejadian didefinisikan sebagai transaksi perusahaan pihak lain yang ada di luar perusahaan. Berbagai kejadian / transaksi yang terjadi di luar perusahaan, merupakan tolak ukur nilai wajar bagi perusahaan. Nilai ini kemudian dapat diacu oleh perusahaan
Dalam SFAC no.6 disebutkan “aset are probable future economic benefit…” probable disini berarti mendekati pasti. Sehingga, aset mendekati pasti akan memberikan manfaat ekonomi di masa depan. “... obtained or controlled by a particular entity….” obtained berarti secara legal dan controlled artinya dikuasai manfaatnya oleh suatu entitas tertentu. “... as a result of past transaction or events.” sebelumnya tidak ada definisi ‘events’. Hanya transaction. Transaction artinya persetujuan jual beli dalam perdagangan antara 2 pihak, yang mana berkaitan dengan (uang?). Sedangkan penambahan ‘events’ disini, tidak hanya yang bersifat moneter, event tidak melibatkan perusahaan dan untuk mengantisipasi pelaporan FV.
Berdasarkan FASB Concept Statement No. 7 dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa fair value adalah harga yang akan diterima dalam penjualan aset atau pembayaran untuk mentransfer kewajiban dalam transaksi yang tertata antara partisipan di pasar dan tanggal pengukuran (Perdana, 2011)
FASB, dalam Statement yang terbaru 157, pengukuran fair value mengesahkan fair value sebagai exit value, dengan tanda setuju dari IASB kepada beberapa reservasi minor : “ fair value adalah harga yang akan diterima dengan menjual satu aset atau yang dibayar untuk memindahkan suatu kewajiban dalam transaksi antara peserta-peserta pasar di tanggal peng- ukuran.” (Penman, 2007;33)
FASB baru-baru ini mengeluarkan draft mengenai pengukuran fair value untuk mengembangkan konsistensi, reliability dan comparability dengan aset keuangan dan bukan keuangan dan kewajiban yang dilaporkan. Ini digambarkan fair value sebagai “harga dimana aset dan liability dapat dipertukarkan pada tranksaksi lancar antara yang banyak mengetahui, tidak berhubungan dengan pihak yang sukarela (FASB 2004, para. 4) Karena sasaran dari pengukuran fair value untuk menaksir harga pertukaran dalam ketidaknyataan suatu transaksi, FASB bergulat dengan keandalan pengukuran fair value, keandalan ukuran-ukuran ini dibandingkan dengan keandalan dari ukuran-ukuran lain didasarkan pada penilaian-penilaian dan perkiraan-perkiraan, dan penyebab ukuran-ukuran yang tak dapat dipercaya.
tiga karakteristik utama yang harus dipenuhi agar suatu objek atau pos dapat disebut aset, yaitu:
- Manfaat ekonomik yang datang cukup pasti
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat ekonomik di masa datang yang cukup pasti. Uang atau kas mempunyai manfaat atau potensi jasa karena daya belinya atau daya tukarnya. Sumber selain kas mempunyai manfaat ekonomik karena dapat ditukarkan dengan kas, barang, atau jasa, karena dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa, atau karena dapat digunakan untuk melunasi kewajiban.
- Dikuasai atau dikendalikan entitas
Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh entitas tetapi cukup dikuasai oleh entitas. Oleh, karena itu, konsep penguasaan atau kendali lebih penting daripada konsep kepemilikan. Penguasaan disini berarti kemampuan entitas untuk mendapatkan, memelihara/menahan, menukarkan, menggunakan manfaat ekonomik dan mencegah akses pihak lain terhadap manfaat tersebut. Hal ini dilandasi oleh konsep dasar substansi mengungguli bentuk yuridis (substance over form). Pemilikan (ownership)hanya mempunyai makna yuridis atau legal.
- Timbul akibat transaksi masa lalu
Kriteria ini sebenarnya menyempurnakan kriteria penguasaan dan sekaligus sebagai kriteria atau tes pertama (first-test) pengakuan objek sebagai aset. Aset harus timbul akibat dari transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi definisi. Penguasaan harus didahului oleh transaksi atau kejadian ekonomik. FASB memasukkan transaksi atau kejadian sebagai kriteria aset karena transaksi atau kejadian tersebut dapat menimbulkan (menambah) atau meniadakan (mengurangi) aset. Misalnya perubahan tingkat bunga, punyusutan atau kecelakaan.
- Dalam konteks revenue-expense approach, bagaimana cost dipertemukan dengan revenue?
Revenue-expense approach
Sekarang ada dua laporan, ada neraca, ada laba rugi. Sudut pandang kita mementingkan yang mana? Kita tidak bisa mementingkan keduanya. Kita harus menekankan pada salah satu. Jadi kalau kita mengatakan bahwa laba rugi itu lebih utama karena laba itu mengukur kinerja dan berbagai alasan kita kita sampaikan, itu berarti kita memberi tekanan pada laporan laba rugi. Kalau kita memberi tekanan lebih pada laporan laba rugi berarti kita dikatakan menggunakan revenue-expense approach, yaitu pendekatan yang menekankan pada pengukuran revenue dan pengukuran expense. Akibatnya apa? Kalau ada sisa-sisa pengukuran, maka sisa-sisa pengukuran itu masuk neraca. Akibatnya dineraca, assetnya disamping berisi aset akan ada sisa pengukuran revenue dan expense namanya deffered debts. Di sisi pasivanya, selain berisi liabilities dan owner’s equity, juga akan berisi sisa-sisa pengukuran dari laba rugi yaitu deferred credits. Akibatnya apa? Neraca kita asetnya tidak meyakinkan, karena disamping ada aset, ada juga deferred debts yaitu debet yang ditangguhkan., misalnya deffered charges (beban ditangguhkan). Harusnya beban, tapi karena tidak dibebankan pembebanannya ditangguhkan. Gimana meletakkan yang ditangguhkan ini? Jadi aset kita berisi aset dan bukan aset. Jadi nilai informasi asetnya turun, tidak bagus. Begitu juga untuk passiva, liabilities dan owner’s equity. Disitu ada deferred credits.
Jadi dampaknya apa?
Kita punya 2 laporan, yaitu neraca dan laba rugi. Kalau kita mengutamakan laba rugi, dengan kata lain berarti kita “mengorbankan neraca”. Kita mengorbankan neraca karena informasi yang ada disitu tidak sepenuhnya memenuhi definisi elemen neraca. Aset tidak sepenuhnya aset, ada deferred debts. Pasiva tidak sepenuhnya, liabilities dan owner’s equity tidak sepenuhnya liabilities dan owner’s equity, ada deferred credits.
Accounting Terminology Bulletin (ATB) 2 mendefinisikan income dan profit sebagai jumlah yang merupakan hasil pengurangan dari revenue atau dari operating revenue serta biaya dan kerugian lain-lain. Sedangkan APB Statement 4 mendefinisikan net income atau net loss sebagai kelebihan (kekurangan) pendapatan atas biaya-biaya untuk satu periode akuntansi. Kedua definisi di atas menggunakan pendekatan revenue- expense.
ATB 2 mendefinisikan revenue sebagai hasil dari penjualan barang dan memberikan jasa dan diukur dengan harga yang dibebankan kepada konsumen, klien, atau penyewa. Definisi ini menggunakan pendekatan revenue- expense. Mulai terdapat pergeseran pendekatan yang digunakan dari revenue- expense approach ke pendekatan asset- liabilitas dalam APB Statement 4 yang mendefinisikan revenue sebagai gross peningkatan asset dan gross penurunan liabilitas yang diukur sesuai dengan GAAP yang merupakan hasil dari tipe aktivitas yang bertujuan mendapatkan profit.
Sedangkan gains sendiri didefinisikan sebagai pendapatan yang diperoleh selain dari hasil penjualan barang dan jasa yang merupakan aktivitas utama perusahaan. Kemudian muncul dua pandangan dalam menyajikan laporan keuangan yaitu current operating income concept dan all- inclusive income concept. Current operating income concept berpikiran bahwa gains tidak menunjukkan produktivitas perusahaan karena berasal dari luar aktivitas utama perusahaan. Oleh karena itu, tidak perlu disajikan dalam laporan keuangan. Namun hal ini ditentang oleh all- inclusive income concep tyang berpendapat bahwa semua informasi harus disajikan.
Berikut ini merupakan empat poin alternative pengakuan pendapatan:
- Selama produksi untuk kontrak jangka panjang tertentu, seperti agriculture dan pertambangan yang menggunakan installment method dimana pendapatan diakui pada saat kas diterima. Syaratnya adalah adanya estimasi yang reliable atas proses yang sedang berlangsung seperti lamanya proses, kos untuk menyelesaikan, dan adanya jaminan kolektabilitas.
- Pada saat produksi diselesaikan, dengan syarat kondisi market dan demandyang stabil serta produk dapat segera dipertukarkan.
- Pengakuan pada saat terjadinya penjualan merupakan prinsip umum dalam pengakuan. Namun terdapat beberapa transaksi baru dimana kondisinya tidak sesuai dengan prinsip ini sehingga menimbulkan masalah baru. Misalnya: penjualan dengan garansi kembali.
- Pada saat kas diterima. Pengakuan berdasarkan basis kas diperbolehkan apabila tidak diperoleh reasonable basis untuk estimasi kolektabilitas.
Pengakuan dilakukan pada saat earning proses telah selesai. Terdapat tiga atribut yang harus diukur antara lain: harga jual, pengumpulan (kolektabilitas) kas, dan kos di masa mendatang. Jika ketiga atribut diatas dapat diukur secara reasonable, maka pendapatan harus diakui. Aturan tradisional mengenai pengakuan lebih menekankan pada laporan laba rugi, sementara standar- setting (SFAS No. 157) tentang fair value measurement mulai bergeser ke neraca.
Expenses atau biaya didefinisikan oleh ATB 4 melalui pendekatan revenue- expense, meliputi semua expired cost yang sudah dikurangkan dari pendapatan. Sedangkan menurut APB Statement No. 4, biaya adalah gross penurunan pada asset atau gross peningkatan pada liabilitas yang diakui dan diukur sesuai dengan GAAP yang dihasilkan dari aktivitas profit- oriented suatu entitas.
Losses atau kerugian didefinisikan dalam APB Statement No. 4 dan SFAC No. 6 dalam cara yang sama seperti gains. Losses mencerminkan pengurangan pada net asset tapi tidak dari expenses atau transaksi modal.
Pengakuan terhadap expenses atau biaya terdapat dalam APB Statement No. 4 dimana expenses itu sendiri diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu: Kos yang diasosiasikan secara langsung dengan periode pendapatan; Kos yang diasosiasikan dengan periode dengan beberapa basis; dan Kos yang secara praktik tidak dapat diasosiasikan dengan periode manapun.
- Jelaskan apakah SFAC No.5,6,7 merupakan pedoman yang cukup untuk menerapkan metode fair value dalam pengukuran akuntansi? (1 HAL)
SFAC No.5 belum ada perubahan dasar, tetapi sudah cukup untuk menjadi dasar penerapan nilai wajar. Hal ini disebabkan karena sudah memperkenalkan mengenai atribut pengukuran yaitu NRV, PV of cash flow
Pada SFAC No.6 juga ditambahkan kata “kejadian” untuk elemen asset, kewajiban, yang mana hal tersebut menandakan bahwa dapat diukur menggunakan nilai wajar.
Sedangkan pada SFAC No.7 sudah dijelaskan dengan detail mengenai penggunaan nilai yang ditentukan pasar, sehingga dapat diamati
Dalam kaitannya dengan pengukuran, SFAC No. 5, FASB melalui discussion memorandum, mengakui adanya 5 dasar pengukuran yang dapat digunakan untuk menentukan nilai aset dan utang, yaitu :
Cost historis (Historical cost), yaitu jumlah kas atau setaranya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset sampai siap untuk digunakan.
Cost pengganti terkini (Current replacement), yaitu jumlah kas atau setaranya yang harus dibayar jika aset yang sejenis/sama diperoleh pada saat sekarang.
Nilai pasar terkini (Current market value), yaitu jumlah kas atau setaranya yang diperoleh dengan menjual aset kegiatan penjualan normal.
Nilai bersih yang dapat direalisasi (Net realisable value), yaitu jumlah kas atau setaranya (tanpa pendiskontoan) yang diperoleh jika aset diharapkan akan dijual setelah dikurangi dengan biaya langsung (biaya produksi dan penjualan).
Nilai sekarang aliran kas mendatang (Present value of future cast flow), yaitu nilai sekarang aliran kas masa mendatang yang akan diperoleh seandainya aset dijual pada masa yang akan datang.
Statement No. 7 lebih menekankan pada isu pengukuran spesifik daripada isu konseptual yang lebih luas, karena itu statement ini dapat dilihat sebagai bagian dari Statement No. 5. SFAC No. 7 digunakan pada situasi dimana current market value tidak tersedia sehingga harus menggunakan estimasi aliran kas di masa mendatang. Poin penting mengenai pengukuran asset adalah pengukuran present value yang digunakan untuk mensimulasi fair value. Discount rate harus meliputi risiko dan ketidakpastian yang merefleksikan pengukuran pasar terhadap nilai asset. Jika asset tertentu memiliki beberapa kemungkinan aliran kas dalam beberapa tahun, maka aliran kas yang diekspektasi harus menentukan probabilitas aliran kas individu tertimbang.
- Jelaskan pendekatan yang ditempuh USA dalam mengadopsi IFRS
FASB mempengaruhi IASB yang sudah memiliki standar namun tidak memiliki kerangka konseptual. FASB beranggapan bahwa kerangka konseptual ini penting karena menjadi dasar bagi pembuatan standar. Maka dari itu FASB dan IASB bersepakat untuk mengganti SFAC No.1 dan 2 ke SFAC No.8 yang sebenarnya memiliki ide yang sama, hanya saja FASB bermaksud untuk mempengaruhi IASB, beserta negara-negara dalam G20 untuk menerapkan kerangka konseptual yang dibuatnya. SFAC ini kemudian dikembangkan menjadi IFRS?
Prinsip matching dalam akuntansi maksudnya adalah biaya yang dipertemukan sama dengan pendapatan yang diterima, ini dimaksudkan untuk menetukan besar kecilnya penghasilan bersih ditiap periode. Dalam prinsip ini sangat bergantung pada penentuan pendapatan, jika pengakuan pendapatan ditunda misalnya, maka pembebanan biaya juga tidak bisa dilakukan. Ada beberapa kesulitan pada prinsip ini, misalnya biaya yang dikeluarkan tidak berhubungan langsung dengan pendapatan yang diterima.
Contoh: Biaya administrasi yang tidak bisa dihubungakan dengan pendapatan perusahaan. Namun kasus seperti ini masih bisa diatasi dengan cara membebankan biaya yang dikeluarkan tersebut kedalam periode terjadinya pengeluaran. Tidak disandingkan dengan pendapatan. Biaya yang tidak bisa disandingkan dengan pendapatan tersebut sering disebut dengan Period Cost karena tidak memiliki keterkaitan yang langsung dan jelas dengan pendapatan yang diterima. Contoh biaya yang sulit dihubungkan dengan pendapatan yang lain adalah biaya yang telah dikeluarkan memiliki hubungan yang jelas dengan produksi tetapi manfaatnya tidak habis dalam satu periode. Manfaatnya akan terus dirasakan hingga beberapa periode. Biaya seperti ini nanti pembebanannya akan ditunda. Ditunda hingga kapan ? Pembebannya akan dialokasikan (dibagi) kedalam periode berikutnya dimana biaya tersebut dimanfaatkan. Contohnya adalah biaya penyusutan. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana pengalokasian biaya setiap periodenya?
Contoh tahun 2014 perusahaan melakukan pembelian gudang ataupun mesin. Tentu gudang atau mesin yang dibeli tersebut juga akan dipakai ditahun tahun berikutnya. Tidak hanya dipakai pada tahun 2014 saja.
Contoh: Biaya administrasi yang tidak bisa dihubungakan dengan pendapatan perusahaan. Namun kasus seperti ini masih bisa diatasi dengan cara membebankan biaya yang dikeluarkan tersebut kedalam periode terjadinya pengeluaran. Tidak disandingkan dengan pendapatan. Biaya yang tidak bisa disandingkan dengan pendapatan tersebut sering disebut dengan Period Cost karena tidak memiliki keterkaitan yang langsung dan jelas dengan pendapatan yang diterima. Contoh biaya yang sulit dihubungkan dengan pendapatan yang lain adalah biaya yang telah dikeluarkan memiliki hubungan yang jelas dengan produksi tetapi manfaatnya tidak habis dalam satu periode. Manfaatnya akan terus dirasakan hingga beberapa periode. Biaya seperti ini nanti pembebanannya akan ditunda. Ditunda hingga kapan ? Pembebannya akan dialokasikan (dibagi) kedalam periode berikutnya dimana biaya tersebut dimanfaatkan. Contohnya adalah biaya penyusutan. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana pengalokasian biaya setiap periodenya?
Contoh tahun 2014 perusahaan melakukan pembelian gudang ataupun mesin. Tentu gudang atau mesin yang dibeli tersebut juga akan dipakai ditahun tahun berikutnya. Tidak hanya dipakai pada tahun 2014 saja.
Sebagai efek dari prinsip ini adalah dipergunakan Accrual Basis didalam pembebanan biaya, yang akhirnya memunculkan jurnal penyesuaian pada setiap akhir periode untuk mempertemukan pendapatan dan biaya.
Perjanjian Norwalk (2002)
Dalam waktu yang cukup lama AICPA telah menyerukan untuk mengurangi perbedaan antara akuntansi dan prosedur pelaporan perusahaan publik di AS dan di negara-negara lain. Upaya pertama untuk mencapai tujuan ini dibuat pada bulan Oktober 2002 ketika FASB dan IASB bersama-sama mengeluarkan Nota Kesepakatan, yang dikenal sebagai "Perjanjian Norwalk." Perjanjian ini secara resmi mengakui konvergensi sebagai tujuan diakuinya kedua standar-setter (Hopkins, et al., 2008).
Penghapusan Of Form 20-F Rekonsiliasi Kebutuhan (2007)
Berdasarkan peraturan SEC sebelumnya, semua emiten asing mendaftar dengan SEC diminta untuk melengkapi Formulir 20-F di bawah bagian 12 dari Securities Exchange Act 0f 1934. Perusahaan asing yang terdaftar dengan SEC kemudian diminta untuk mengajukan laporan keuangan tahunan dan berkala mereka sesuai dengan US GAAP, atau sesuai dengan GAAP lokal mereka (IFRS), disertai dengan rekonsiliasi dengan US GAAP. Pada bulan Desember 2007, SEC secara bulat menghilangkan persyaratan laporan keuangan IFRS berbasis kepada US GAAP.
SEC Road Map (2008 )
Pada tanggal 27 Agustus 2008, SEC mengusulkan "Road Map” dimana diberikan tenggang waktu untuk perusahaan-perusahaan AS untuk mengadopsi IFRS . IASB akan terus bekerja menuju konvergensi sampai 2011.
RENCANA KERJA SEC (2010)
Pada tanggal 24 Februari 2010, SEC memutuskan untuk mengumumkan dukungan terhadap pencapaian tujuan merumuskan satu set standar akuntansi yang berkualitas tinggi, dan diterima secara global. SEC juga diperbaharui dukungan upaya terus menerus untuk konvergensi US GAAP dan IFRS. FASB, bersama dengan IASB, menyatakan komitmen untuk menyelesaikan proyek-proyek besar konvergensi mereka pada Juni 2011.
Dalam pengumuman sama, SEC mengembangkan "rencana kerja‟ yang akan memungkinkan SEC untuk mengevaluasi dampak dari adopsi IFRS oleh perusahaan-perusahaan AS pada pasar modal AS. Jika proyek konvergensi dan rencana kerja selesai pada 2011, SEC kemudian akan memutuskan apakah setuju atau tidak untuk menggabungkan IFRS ke pelaporan persyaratan keuangan US.
The SEC mencakup enam masalah berikut:
- Kualitas IFRS dan kesesuaian mereka untuk adopsi di Amerika Serikat.
- Memastikan bahwa standar yang ditetapkan oleh standar-setter independen dan untuk kepentingan Emiten.
- Pemahaman dan pendidikan investor mengenai IFRS dan perbedaan mereka dari US GAAP.
- Apakah setiap hukum dan peraturan US, selain efek dan pelaporan, akan terpengaruh oleh adopsi IFRS.
- Dampak dari adopsi pada penerbit US .
- Kesiapan para pihak, terlibat dalam persiapan dan audit laporan keuangan, untuk adopsi IFRS.
Tujuan lain dari Konvergensi ke IFRS:
- Dapat mengurangi peran dari badan otoritas dan panduan terbatas pada industri-industri spesifik.
- Pendekatan terbesar pada subtansi atas transaksi dan evaluasi dimana merefleksikan realitas ekonomi yang ada.
- Meningkatkan daya banding laporan keuangan dan memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal internasional.
- Menghilangkan hambatan arus modal internasional dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan.
- Mengurangi biaya pelaporan keuangan bagi perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis.
- Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan menuju “best practise”.